Pencipta Node.js Menyerah? Deno Hentikan Pengembangan Runtime pada 2027

Deno tidak langsung mati. Namun, keputusan tim di balik runtime JavaScript ini untuk bergabung dengan Cloudflare menjadi pelajaran penting tentang persaingan teknologi, kekuatan ekosistem, dan masa depan infrastruktur server.
Pada 2018, Ryan Dahl memperkenalkan Deno, sebuah runtime JavaScript yang lahir dari pelajaran selama pengembangan Node.js. Tujuannya ambisius: membangun lingkungan eksekusi JavaScript dan TypeScript yang lebih aman, lebih sederhana, dan lebih modern.
Delapan tahun kemudian, cerita itu memasuki babak baru.
Pada 9 Oktober 2026, Deno mengumumkan bahwa seluruh timnya bergabung dengan Cloudflare. Pengembangan aktif runtime Deno akan berakhir setelah satu tahun masa pemeliharaan, sementara layanan hosting Deno Deploy dijadwalkan berhenti beroperasi setelah enam bulan. [1]
Keputusan ini terasa ironis. Deno bukan proyek yang tiba-tiba kehilangan seluruh penggunanya. The Register melaporkan bahwa Deno memiliki sekitar 400.000 pengguna aktif bulanan pada Agustus 2026. Perusahaan itu juga pernah mengumumkan pertumbuhan pengguna lebih dari dua kali lipat setelah Deno 2 dirilis. [2][3]
Lalu, mengapa proyek yang masih digunakan ratusan ribu orang harus menghentikan pengembangan runtime mandirinya?
Jawabannya bukan sekadar bahwa Deno kalah dari Node.js. Ada persoalan yang lebih mendasar: membangun teknologi yang lebih baik tidak otomatis membuat ekosistem baru lebih mudah diadopsi, dan membangun runtime yang bagus tidak sama dengan membangun bisnis infrastruktur yang berkelanjutan.
Dari Node.js ke Deno: mencoba memperbaiki masa lalu
Untuk memahami keputusan ini, kita perlu kembali ke awal.
Node.js membuat JavaScript dapat digunakan di luar browser, termasuk untuk membangun server dan aplikasi backend. Model asynchronous I/O membuat developer dapat menangani banyak operasi jaringan tanpa harus menggunakan pendekatan tradisional yang mengandalkan satu thread untuk setiap koneksi.
Ryan Dahl merupakan pencipta Node.js. Namun, setelah terlibat dalam proyek tersebut pada masa awal, ia melihat sejumlah keputusan desain yang menurutnya sulit diperbaiki setelah ekosistemnya tumbuh.
Pada 2018, Dahl memperkenalkan Deno melalui presentasi 10 Things I Regret About Node.js. Ia menyoroti berbagai persoalan desain, termasuk sistem modul, pengelolaan dependensi, dan model keamanan.
Deno dibangun dengan beberapa prinsip yang berbeda.
Pertama, TypeScript didukung secara langsung sehingga developer tidak harus merakit toolchain tambahan hanya untuk menjalankan kode TypeScript.
Kedua, Deno menggunakan sistem izin eksplisit. Secara default, program tidak langsung memperoleh akses bebas ke jaringan, sistem berkas, atau variabel lingkungan tanpa izin yang sesuai.
Ketiga, Deno mengutamakan ES Modules dan web standards, dengan tujuan menghadirkan pengalaman pengembangan yang lebih konsisten.
Keempat, Deno menyertakan berbagai fasilitas dalam satu toolchain, seperti formatter, linter, test runner, dan language server.
Deno 1.0 dirilis pada 13 Mei 2020. Proyek ini kemudian berkembang dari sekadar runtime menjadi platform pengembangan yang mencakup pengelolaan dependensi, distribusi modul, dan hosting aplikasi. [4]
Gagasannya masuk akal: jika developer harus memasang terlalu banyak perangkat tambahan untuk membangun aplikasi, mengapa tidak menyatukannya sejak awal?
Masalahnya, sebuah runtime tidak hidup sendirian. Ia bergantung pada paket, framework, dokumentasi, alat pengujian, layanan hosting, dan kebiasaan developer. Di sinilah tantangan Deno mulai terlihat.
Deno 2: ketika alternatif harus semakin kompatibel dengan pesaingnya
Salah satu hambatan terbesar Deno adalah kompatibilitas dengan ekosistem Node.js.
Selama bertahun-tahun, Node.js telah membangun ekosistem npm yang sangat luas. Developer memiliki akses ke berbagai pustaka, framework, alat pengembangan, dan solusi untuk kebutuhan produksi.
Bagi sebuah proyek baru, membujuk developer untuk pindah bukan sekadar persoalan kecepatan runtime atau kualitas API. Mereka juga harus mempertimbangkan apakah dependensi lama tetap berjalan, apakah proses deployment berubah, dan apakah tim perlu mempelajari ulang cara kerja proyek.
Deno akhirnya merespons kebutuhan tersebut.
Deno 2, yang dirilis pada Oktober 2024, memperluas kompatibilitas dengan Node.js, npm, package.json, CommonJS, dan workspace. Langkah ini membuat Deno lebih praktis digunakan pada proyek yang sudah ada. [5]
Namun, di balik keberhasilan teknis tersebut terdapat sebuah ironi.
Deno awalnya ingin menawarkan alternatif terhadap sejumlah keputusan desain Node.js. Untuk memperluas adopsi, Deno justru harus semakin kompatibel dengan ekosistem yang telah dibangun Node.js.
Dalam wawancara dengan The Register pada Oktober 2026, Dahl menjelaskan bahwa timnya menemukan betapa sulitnya menyimpang terlalu jauh dari Node.js. Dalam upaya memperoleh adopsi, mereka harus mundur dari beberapa janji awal dan meningkatkan kompatibilitas, sehingga Deno semakin menyerupai implementasi alternatif Node.js. [2]
Ini bukan berarti kompatibilitas merupakan keputusan yang salah. Justru, kompatibilitas sering menjadi syarat penting agar sebuah teknologi dapat digunakan dalam produksi.
Pelajarannya adalah bahwa inovasi tidak selalu menang dengan menggantikan teknologi lama. Terkadang, inovasi harus hidup berdampingan dengan standar dan ekosistem yang sudah telanjur dominan.
400.000 pengguna aktif, tetapi pengembangan runtime tetap dihentikan
Salah satu fakta paling menarik dalam cerita ini adalah angka pengguna Deno.
Menurut laporan The Register, Deno memiliki sekitar 400.000 pengguna aktif bulanan pada Agustus 2026. Angka ini menunjukkan bahwa proyek tersebut masih memiliki basis pengguna yang berarti ketika pengumuman bergabung dengan Cloudflare diterbitkan pada Oktober 2026. [2]
Sebelumnya, pada 20 Mei 2025, Ryan Dahl menulis bahwa adopsi Deno meningkat lebih dari dua kali lipat sejak Deno 2 dirilis pada Oktober 2024. Pernyataan tersebut didasarkan pada metrik pengguna aktif bulanan internal perusahaan. [3]
Namun, angka pengguna perlu dibaca dengan hati-hati.
Pengguna aktif bukan berarti pelanggan berbayar. Jumlah pengguna juga tidak secara langsung mengungkap pendapatan, biaya operasional, margin keuntungan, atau kemampuan perusahaan membiayai pengembangan jangka panjang.
Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa Deno pasti menguntungkan hanya karena memiliki ratusan ribu pengguna. Sebaliknya, tidak tepat pula menyatakan bahwa perusahaan bangkrut hanya karena pengembangan runtime dihentikan.
Fakta yang tersedia menunjukkan hal yang lebih spesifik: perusahaan memilih mengalihkan fokus pengembangan ke platform bersama dengan Cloudflare, sementara runtime Deno memasuki masa pemeliharaan terbatas.
Kasus ini mengingatkan kita bahwa popularitas teknologi dan keberlanjutan bisnis merupakan dua hal berbeda.
Deno Deploy: membangun runtime ternyata baru permulaan
Deno tidak hanya mengembangkan runtime. Perusahaan juga membangun Deno Deploy, layanan untuk menjalankan aplikasi menggunakan infrastruktur cloud.
Tujuannya adalah menyederhanakan deployment aplikasi JavaScript, terutama aplikasi yang membutuhkan eksekusi terdistribusi dan latensi rendah.
Namun, mengoperasikan platform hosting memiliki persoalan yang berbeda dari membangun perangkat lunak open-source.
Penyedia hosting harus memikirkan kapasitas komputasi, jaringan, penyimpanan, pemantauan, ketersediaan layanan, dan pengalaman operasional pelanggan. Semua itu membutuhkan infrastruktur serta sumber daya yang berkelanjutan.
Dalam tulisan resminya pada Mei 2025, Dahl mengungkap bahwa Deno Deploy pernah berkembang dari 25 wilayah menjadi 35 wilayah, lalu dikurangi menjadi enam wilayah. Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan biaya dan pola penggunaan pelanggan. Banyak aplikasi membutuhkan akses cepat ke database yang berada di satu wilayah tertentu, sehingga menjalankan aplikasi di banyak wilayah tidak selalu memberikan manfaat. [3]
Fakta ini penting karena memperlihatkan bahwa arsitektur yang terlihat ideal di atas kertas belum tentu menjadi arsitektur yang paling efisien dalam penggunaan nyata.
Menjalankan kode sedekat mungkin dengan pengguna dapat mengurangi latensi. Namun, jika aplikasi bergantung pada database di wilayah tertentu, memperluas lokasi komputasi tidak otomatis mempercepat seluruh permintaan.
Pada akhirnya, perusahaan perlu menyesuaikan arsitektur dengan pola penggunaan sebenarnya, bukan hanya mengejar jumlah wilayah atau klaim distribusi global.
Pengalaman membangun Deno Deploy juga membawa tim pada pertanyaan yang lebih besar: bisakah model pemrograman menyatukan komputasi, penyimpanan state, dan komunikasi tanpa mengharuskan setiap aplikasi merakit infrastrukturnya sendiri?
Pertanyaan itulah yang menghubungkan Deno dengan Cloudflare.
Mengapa Cloudflare? Fokus bergeser dari runtime ke model komputasi
Pengumuman 9 Oktober 2026 menjelaskan bahwa tim Deno akan bekerja bersama Cloudflare untuk mengembangkan model pemrograman yang menggabungkan pekerjaan Deno pada proyek celld dengan workerd, runtime open-source yang digunakan untuk Cloudflare Workers. [1][6]
Untuk memahami arahnya, ada tiga komponen penting.
Cloudflare Workers memungkinkan developer menjalankan kode pada jaringan Cloudflare tanpa harus mengelola server tradisional untuk setiap aplikasi.
Durable Objects menyediakan abstraksi untuk menggabungkan eksekusi kode dengan state persisten, sehingga berguna untuk aplikasi real-time, koordinasi antarkomponen, dan layanan yang membutuhkan state.
workerd merupakan runtime open-source yang mendasari model eksekusi Workers dan dapat dijalankan di luar layanan cloud Cloudflare.
Proyek celld yang dikembangkan Deno berupaya menghadirkan model Workers dan Durable Objects yang dapat dijalankan serta diskalakan pada infrastruktur yang dikelola sendiri.
Dalam pengumuman bersama, Cloudflare menjelaskan bahwa ekosistem dan perangkat pendukung untuk menjalankan workerd secara mandiri belum berkembang sesuai harapan. Tim Deno dinilai memiliki pengalaman yang relevan dalam membangun runtime dan pengalaman pengembangan untuk lingkungan yang dapat dioperasikan sendiri. [6]
Dengan demikian, penggabungan ini bukan sekadar memindahkan developer Deno ke perusahaan lain. Ada sasaran teknis yang jelas: membuat model komputasi Workers lebih mudah digunakan di berbagai lingkungan, termasuk infrastruktur milik pengguna sendiri.
Arah ini berpotensi menarik bagi developer yang ingin mendapatkan kemudahan komputasi terkelola tanpa sepenuhnya bergantung pada satu layanan hosting.
Namun, potensi tersebut belum sama dengan hasil yang sudah terbukti. Keberhasilan akhirnya bergantung pada implementasi, kompatibilitas, dokumentasi, kematangan tooling, dan dukungan operasional yang tersedia.
Bagaimana nasib Deno setelah Oktober 2026?
Pengumuman resmi Deno memberikan beberapa kepastian penting bagi developer.
1. Runtime Deno masih dipelihara selama satu tahun
Deno menyatakan akan menerbitkan rilis bulanan 2.9.x yang berisi perbaikan bug dan pembaruan keamanan hingga Oktober 2027. Setelah periode tersebut, perusahaan akan menghentikan pengembangan runtime-nya. [1][7]
Artinya, tidak ada pengembangan fitur baru yang direncanakan dalam periode pemeliharaan ini. Perbaikan yang layak tetap dapat diterima, tetapi developer tidak seharusnya mengandalkan fitur baru dari tim resmi Deno.
2. Deno tetap open-source
Deno menggunakan lisensi MIT. Kode sumbernya tidak otomatis menjadi tertutup hanya karena tim perusahaan bergabung dengan Cloudflare.
Pihak lain dapat melakukan fork, memelihara kode, dan mengembangkan versi lanjutan sesuai ketentuan lisensinya.
Namun, kemampuan hukum untuk melakukan fork tidak otomatis menjamin keberlanjutan proyek. Pemeliharaan runtime tetap membutuhkan kontributor, proses peninjauan kode, penanganan kerentanan keamanan, dan sumber daya untuk menguji perubahan.
Komunitas yang ingin melanjutkan Deno perlu menjawab persoalan tata kelola dan pendanaan tersebut, bukan hanya mempertahankan repositorinya.
3. Deno Deploy dijadwalkan berhenti beroperasi
Deno menyatakan bahwa Deno Deploy akan terus berjalan selama enam bulan setelah pengumuman, kemudian ditutup. Pelanggan berbayar akan memperoleh bantuan migrasi menuju Cloudflare Workers. [1]
Jika periode enam bulan dihitung dari 9 Oktober 2026, penutupan diperkirakan terjadi sekitar April 2027. Tanggal ini merupakan perkiraan berdasarkan pengumuman, bukan tanggal penutupan spesifik yang dinyatakan dalam sumber tersebut.
Developer yang menggunakan Deno Deploy sebaiknya memulai evaluasi migrasi lebih awal, khususnya untuk aplikasi produksi, penyimpanan data, pekerjaan latar belakang, variabel lingkungan, dan integrasi eksternal.
4. JSR dan rusty_v8 tidak otomatis dihentikan
JSR, registri paket JavaScript dan TypeScript, akan tetap beroperasi dengan infrastrukturnya berpindah ke Cloudflare. Deno juga menyatakan akan terus mendukung rusty_v8 dan mengupayakan integrasinya ke workerd. [1]
Ini mempertegas bahwa pengumuman tersebut bukan penutupan semua proyek yang berkaitan dengan Deno. Yang berubah adalah fokus perusahaan dan masa depan runtime serta layanan hosting mandirinya.
Apakah Node.js menang?
Jika persaingan ini hanya dinilai berdasarkan keberlangsungan runtime mandiri, Node.js berada pada posisi yang lebih kuat. Ekosistemnya tetap menjadi salah satu fondasi utama pengembangan backend JavaScript, sedangkan pengembangan resmi Deno sebagai runtime mandiri memiliki batas waktu.
Namun, menyebut Node.js sebagai pemenang mutlak akan menyederhanakan persoalan.
Deno membawa gagasan yang telah memengaruhi cara developer menilai keamanan, toolchain terpadu, dukungan TypeScript, dan standar web. Sejumlah gagasan itu dapat tetap relevan meskipun proyeknya tidak lagi berkembang seperti sebelumnya.
Selain itu, tim Deno kini akan mengerjakan bagian infrastruktur yang berbeda. Jika penggabungan celld dan workerd berhasil, pengalaman Deno dapat berkontribusi pada model komputasi server yang lebih mudah dijalankan dan dikelola.
Dengan kata lain, runtime Deno dapat kehilangan jalur pengembangan mandirinya tanpa berarti seluruh ide di baliknya ikut hilang.
Dalam industri teknologi, sebuah proyek tidak selalu meninggalkan warisan melalui dominasi pasar. Terkadang, kontribusinya terlihat pada desain sistem yang kemudian diadopsi, dikembangkan, atau diintegrasikan ke platform lain.
Pelajaran bagi developer dan perusahaan teknologi
Ada setidaknya empat pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan Deno.
Pertama, kualitas teknis tidak cukup.
Runtime yang aman, cepat, dan nyaman digunakan tetap membutuhkan ekosistem paket, dokumentasi, integrasi, dan dukungan produksi. Developer memilih teknologi berdasarkan keseluruhan biaya dan risiko, bukan hanya kualitas runtime.
Kedua, kompatibilitas memiliki nilai ekonomi.
Semakin mudah teknologi baru digunakan bersama sistem lama, semakin kecil biaya perpindahan bagi pengguna. Namun, kompatibilitas juga membutuhkan investasi pemeliharaan dan dapat mengurangi perbedaan yang awalnya menjadi keunggulan produk.
Ketiga, open-source tidak berarti biaya operasional nol.
Kode dapat tersedia secara gratis, tetapi membangun tim, memelihara keamanan, menjalankan infrastruktur, dan memberikan dukungan tetap membutuhkan biaya. Model bisnis dan tata kelola komunitas menentukan apakah sebuah proyek dapat bertahan dalam jangka panjang.
Keempat, infrastruktur harus mengikuti kebutuhan nyata.
Pengalaman Deno Deploy menunjukkan bahwa lebih banyak wilayah komputasi tidak selalu menghasilkan pengalaman yang lebih baik. Lokasi database, pola akses, kapasitas, dan biaya dapat lebih menentukan daripada sekadar jumlah lokasi server.
Pelajaran ini relevan bagi startup, pengembang independen, dan perusahaan yang sedang menentukan fondasi teknologinya.
Memilih teknologi sebaiknya tidak hanya berdasarkan tren atau hasil benchmark. Pertimbangkan juga ukuran ekosistem, jalur migrasi, kemampuan tim, risiko ketergantungan vendor, dan kemungkinan mempertahankan sistem ketika penyedia layanan mengubah strateginya.
Kesimpulan: Deno tidak sekadar berhenti, tetapi mengubah arah
Perjalanan Deno dimulai dari keinginan Ryan Dahl untuk memperbaiki desain Node.js. Proyek itu berkembang menjadi runtime modern, toolchain terpadu, registri paket, dan layanan hosting.
Namun, perjalanan tersebut juga memperlihatkan batas antara membangun teknologi yang baik dan membangun platform yang dapat bertahan sebagai bisnis mandiri.
Pada Oktober 2026, tim Deno memilih bergabung dengan Cloudflare dan mengalihkan fokus pada pengembangan model komputasi Workers, Durable Objects, serta kemampuan menjalankan infrastruktur secara mandiri.
Runtime Deno masih akan dipelihara hingga Oktober 2027, Deno Deploy dijadwalkan tutup setelah enam bulan, sementara JSR dan rusty_v8 memiliki rencana kelanjutan tersendiri.
Karena itu, judul yang paling akurat bukanlah “Deno mati total.” Yang terjadi adalah berakhirnya pengembangan aktif runtime Deno oleh perusahaan aslinya, dengan sebagian teknologi dan timnya bergerak menuju platform baru.
Kisah Deno memberi satu pelajaran penting: dalam dunia perangkat lunak, teknologi yang lebih baik belum tentu menggantikan teknologi yang lebih mapan. Namun, ide yang baik masih dapat bertahan dan menemukan tempat baru, bahkan ketika produk asalnya berhenti berkembang.
Sumber dan referensi
- Ryan Dahl, Deno, Deno is joining Cloudflare, 9 Oktober 2026.
- The Register, Node.js creator ditches Deno to work on open source Cloudflare Workers, Oktober 2026.
- Ryan Dahl, Deno, Reports of Deno's Demise Have Been Greatly Exaggerated, 20 Mei 2025.
- Deno, Deno Blog, arsip pengumuman dan riwayat rilis.
- Deno, Deno 2.0, Oktober 2024.
- Kenton Varda dan Ryan Dahl, Cloudflare, Deno is joining Cloudflare, 9 Oktober 2026.
- Deno, The state of Deno after the Cloudflare announcement, GitHub, 15 Oktober 2026.
Catatan editorial: angka pengguna aktif merupakan angka yang dilaporkan sumber, bukan audit independen. Pengumuman tidak mengungkap nilai transaksi akuisisi atau membuktikan bahwa Deno bangkrut. Perkiraan penutupan Deno Deploy sekitar April 2027 dihitung dari periode enam bulan sejak pengumuman 9 Oktober 2026.
About the author
I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.
Comments
Join the discussionNo comments yet. Be the first to comment.





