Skip to main content

Command Palette

Search for a command to run...

Mengapa Banyak Mahasiswa IT Lulus Tetapi Sulit Mendapat Pekerjaan?

Updated
5 min read
Mengapa Banyak Mahasiswa IT Lulus Tetapi Sulit Mendapat Pekerjaan?
A

I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.

Setiap tahun, ribuan mahasiswa jurusan Teknologi Informasi, Sistem Informasi, dan Teknik Informatika diwisuda. Namun, tidak sedikit di antara mereka yang kemudian menghadapi kenyataan yang cukup berat: sulit mendapatkan pekerjaan pertama di bidang teknologi.

Padahal industri digital terus berkembang. Kebutuhan akan software engineer, data analyst, AI engineer, dan berbagai profesi teknologi lainnya masih tinggi. Lalu, mengapa banyak lulusan IT justru kesulitan menembus dunia kerja?

Mari kita bahas beberapa penyebab utamanya.

1. Terlalu Fokus pada Nilai, Kurang Fokus pada Karya

Banyak mahasiswa menghabiskan waktu untuk mengejar IPK tinggi, tetapi lupa membangun portofolio.

Padahal, ketika melamar pekerjaan, perusahaan sering kali lebih tertarik melihat:

  • Apa yang pernah Anda buat?

  • Proyek apa yang pernah Anda kerjakan?

  • Teknologi apa yang pernah Anda gunakan?

  • Bagaimana cara Anda menyelesaikan suatu masalah?

Seorang mahasiswa dengan IPK biasa tetapi memiliki beberapa proyek nyata sering kali lebih menarik dibanding lulusan dengan IPK tinggi tetapi tanpa portofolio.

2. Kurangnya Pengalaman Praktik

Di bangku kuliah, sebagian mahasiswa hanya mengerjakan tugas untuk mendapatkan nilai.

Sementara di dunia kerja, perusahaan mencari orang yang mampu:

  • membangun aplikasi;

  • bekerja dalam tim;

  • menggunakan Git dan GitHub;

  • membaca dokumentasi;

  • memecahkan masalah nyata.

Sayangnya, banyak lulusan baru belum pernah mengalami proses tersebut.

Akibatnya, mereka merasa "sudah belajar banyak", tetapi belum siap menghadapi kebutuhan industri.

3. Tidak Memiliki Portofolio yang Dapat Ditunjukkan

Banyak fresh graduate mengirim CV yang hanya berisi:

  • riwayat pendidikan;

  • organisasi;

  • IPK;

  • sertifikat.

Namun tidak ada:

  • aplikasi yang pernah dibuat;

  • proyek kelompok;

  • kontribusi open source;

  • capstone project;

  • akun GitHub yang aktif.

Padahal portofolio adalah salah satu cara terbaik untuk menunjukkan kemampuan.

4. Kurangnya Networking

Tidak sedikit peluang kerja datang dari:

  • teman;

  • mentor;

  • komunitas;

  • rekomendasi.

Mahasiswa yang aktif dalam komunitas biasanya memiliki akses informasi yang lebih luas dibanding mereka yang belajar sendirian.

Networking bukan hanya soal mencari pekerjaan, tetapi juga tentang belajar, bertumbuh, dan menemukan kesempatan baru.

5. Skill yang Dipelajari Tidak Selalu Sesuai Kebutuhan Industri

Teknologi berkembang sangat cepat.

Saat ini industri banyak membutuhkan kemampuan seperti:

  • Full-Stack Development;

  • Artificial Intelligence;

  • Data Science;

  • Cloud Computing;

  • Software Engineering Practices.

Mahasiswa perlu terus belajar dan mengikuti perkembangan agar tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Dicari Perusahaan?

Perusahaan biasanya mencari kombinasi dari beberapa hal berikut:

  • kemampuan teknis;

  • kemampuan bekerja sama;

  • portofolio;

  • pengalaman praktik;

  • kemauan belajar;

  • kemampuan berkomunikasi.

Karena itulah, memiliki ijazah saja sering kali belum cukup.

Bagaimana Cara Meningkatkan Peluang Mendapatkan Pekerjaan?

Berikut beberapa langkah yang dapat mulai dilakukan sejak masih kuliah:

1. Bangun Portofolio

Mulailah membuat proyek nyata, meskipun sederhana.

2. Ikut Komunitas

Belajar bersama orang lain dapat memperluas wawasan dan jaringan.

3. Pelajari Teknologi yang Dibutuhkan Industri

Jangan hanya mengandalkan materi perkuliahan.

4. Ikuti Program Belajar yang Terstruktur

Program yang memberikan pengalaman praktik, proyek, dan bimbingan dapat membantu mempercepat proses belajar.

Salah Satu Penyebab Utama: Minimnya Portofolio dan Pengalaman Praktik

Banyak mahasiswa sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi belum memiliki cukup kesempatan untuk:

  • mengerjakan proyek nyata;

  • mendapatkan feedback;

  • membangun jaringan profesional;

  • memahami kebutuhan industri.

Karena itu, mengikuti program pembelajaran yang lebih terstruktur dapat menjadi salah satu solusi.

Mengenal Program Asah 2026

Salah satu program yang menarik perhatian saya adalah Asah 2026 yang diselenggarakan oleh Dicoding.

Program ini menawarkan beberapa hal yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa saat ini, di antaranya:

  • pembelajaran yang terstruktur;

  • proyek dan pengalaman praktik;

  • networking dengan peserta dan mentor;

  • sertifikat penyelesaian program;

  • pengembangan soft skill dan kesiapan karier.

Menurut saya, nilai terbesar dari program seperti ini bukan sekadar sertifikat, tetapi kesempatan untuk membangun skill, portofolio, dan jaringan sebelum lulus kuliah.

Jika Anda saat ini masih bingung memulai perjalanan di bidang teknologi, program seperti ini layak untuk dipelajari lebih lanjut.

Tertarik Mempersiapkan Diri Lebih Serius di Bidang Teknologi?

Jika Anda merasa artikel ini menggambarkan kondisi Anda—masih bingung membangun portofolio, kurang pengalaman praktik, atau ingin lebih siap menghadapi dunia kerja di bidang IT—maka Anda bisa mempertimbangkan salah satu program pembelajaran terstruktur berikut.

Program Asah 2026 dari Dicoding dirancang untuk membantu peserta:

  • belajar dengan alur yang lebih terarah

  • mengerjakan proyek untuk membangun portofolio

  • mendapatkan pengalaman praktik yang relevan dengan industri

  • terhubung dengan komunitas dan mentor

  • mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan dunia kerja di era AI

Sebagai informasi, pendaftaran melalui tautan ini memberikan potongan biaya sebesar 10% (hemat Rp25.000) dari biaya registrasi.

👉 Daftar melalui link berikut: https://www.dicoding.com/ref/AHRQ6SPP

atau langsung kunjungi https://www.dicoding.com/asah , masukkan kode refferal AHRQ6SPP

Tidak ada biaya tambahan jika Anda menggunakan link tersebut, dan potongan akan otomatis diterapkan saat pendaftaran.

Saya hanya membagikan ini sebagai salah satu opsi bagi yang benar-benar sedang mencari jalur belajar yang lebih terstruktur di bidang teknologi.

Penutup

Lulus dari jurusan IT tidak otomatis membuat seseorang siap bekerja.

Dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar ijazah. Dibutuhkan:

  • kemampuan praktik;

  • portofolio;

  • pengalaman;

  • networking;

  • dan kemauan untuk terus belajar.

Jika Anda masih kuliah, jangan menunggu sampai wisuda untuk mulai mempersiapkan diri.

Mulailah membangun karya, memperluas jaringan, dan mencari kesempatan belajar yang dapat membantu Anda menjadi lebih siap menghadapi dunia profesional.


Catatan: Artikel ini bukan ajakan untuk mengikuti program tertentu. Saya hanya berbagi informasi dan peluang belajar yang menurut saya dapat membantu mahasiswa dan fresh graduate mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja di bidang teknologi.