Skip to main content

Command Palette

Search for a command to run...

Dari Seni ke Teknologi: Ketika Kebutuhan dan Rasa Cipta Melahirkan Karya

Updated
3 min read
Dari Seni ke Teknologi: Ketika Kebutuhan dan Rasa Cipta Melahirkan Karya
A

I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.

Banyak orang berpikir bahwa untuk membuat aplikasi, kita harus kuliah di jurusan teknik informatika, hafal algoritma, atau jago matematika.
Tapi kisah ini membantah semua itu.

Ada seseorang — bukan dari dunia IT, bukan juga dari kampus teknologi ternama. Ia lulusan seni. Dunia yang penuh warna, bentuk, dan rasa. Bukan logika dan kode.
Namun dari sanalah justru lahir karya-karya digital yang fungsional, indah, dan bermanfaat bagi banyak orang.

Namanya Endro Kustono.
Seorang desainer, bukan programmer. Tapi ketika ia melihat kebutuhan di sekelilingnya, ia tidak berhenti di alasan “saya tidak bisa coding”. Ia belajar sedikit demi sedikit — tidak untuk menjadi programmer hebat, tapi untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat.


Ketika Kebutuhan Mendorong Kreativitas

Awalnya, Endro membuat aplikasi sederhana bernama Task — semacam to-do list untuk mengatur waktu kerja, istirahat, dan prioritas.

Ia memulainya karena kebutuhan pribadi: bagaimana agar waktu kerja bisa tertata rapi tanpa stres.
Dengan kemampuan desainnya, ia menciptakan antarmuka yang nyaman dan ringan. Tak ada framework rumit, tak ada server besar. Hanya HTML, CSS, dan sedikit JavaScript.

Dari situ, ia mulai percaya diri:

“Ternyata teknologi tidak semenakutkan itu. Saya bisa memadukan seni dengan logika.”


Ketika Seni Bertemu Iman

Langkah berikutnya lebih menarik.
Ia membuat aplikasi Pengingat Sholat untuk daerah Sragen — sebuah karya kecil, tapi penuh makna.
Bukan hanya proyek teknis, tapi juga ungkapan iman dan rasa cinta pada kampung halaman.

Desainnya bersih. Fiturnya sederhana: menampilkan waktu sholat untuk wilayah Sragen. Tapi di balik kesederhanaan itu ada pesan besar:

Bahwa teknologi bisa menjadi sarana ibadah.
Bahwa keindahan tidak berhenti di kanvas, tapi bisa hidup dalam kode.


Pelajaran bagi yang “Malas Coding”

Kisah ini bukan hanya tentang Endro.
Ini tentang kita — yang sering berkata:

“Aku bukan anak IT.”
“Aku nggak jago coding.”
“Aku nggak ngerti logika program.”

Tapi kalau dipikir lebih dalam, tidak ada karya yang lahir karena kemampuan, semua lahir karena kebutuhan dan keberanian.

Coding itu seperti melukis.
Awalnya canggung, goresannya tidak rapi, warnanya salah. Tapi lama-lama tangan terbiasa, rasa terbentuk, intuisi tumbuh.
Seni dan teknologi ternyata tak jauh berbeda — keduanya butuh rasa, kesabaran, dan makna.


Pesan untuk yang Sedang Belajar IT

Jika kamu sekarang sedang belajar coding dan merasa malas, jenuh, atau merasa “bukan orangnya” — ingatlah:

  • Kamu tidak perlu menjadi jenius untuk berkarya.

  • Kamu hanya perlu membuat sesuatu yang kamu butuhkan atau kamu cintai.

  • Mulailah dari kecil. Bahkan satu halaman HTML pun bisa jadi awal perubahan besar.

  • Gunakan rasa senimu, imajinasimu, bahkan keresahanmu — jadikan bahan bakar untuk berkarya.

Jangan menunggu jadi ahli baru berkarya.
Justru dengan berkarya, kamu akan tumbuh menjadi ahli.


Akhir Kata

Endro Kustono mungkin bukan insinyur komputer, tapi ia membuktikan satu hal penting:

“Teknologi adalah alat. Hati dan niatlah yang menjadikannya karya.”

Dunia digital hari ini tidak lagi menuntut gelar. Ia menuntut rasa ingin tahu, semangat belajar, dan keberanian mencoba.

Jadi, jika hari ini kamu merasa malas coding —
ingatlah bahwa seseorang dengan latar belakang seni bisa membuat aplikasi pengingat sholat yang berguna bagi banyak orang.

Kalau dia bisa, kamu juga bisa.
Yang penting: mulai dulu.
Sisanya, biar karya yang bicara.

More from this blog

F

Finlup ID | Sharing dunia teknologi dan coding

206 posts

Membedah Tren dan Teknologi yang Mengubah Dunia.