AdonisJs Sang Alternatif Laravel: Kenapa Tidak Populer, padahal JS Populer dan Laravel juga Populer..

I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.
Search for a command to run...

I am an enthusiastic researcher and developer with a passion for using technology to innovate in business and education.
No comments yet. Be the first to comment.
Ringkasan: Jika OpenClaw adalah AI Operating System yang menghubungkan berbagai layanan dan agent, maka Hermes adalah AI Worker yang fokus mengerjakan pekerjaan, belajar dari pengalaman, dan semakin p

Ketika membangun aplikasi modern seperti Next.js, Cloudflare Workers, platform AI, microservices, atau real-time dashboard, ada banyak istilah jaringan yang sering muncul: TCP, UDP, HTTP/2, QUIC, WebS

Setiap tahun, ribuan mahasiswa jurusan Teknologi Informasi, Sistem Informasi, dan Teknik Informatika diwisuda. Namun, tidak sedikit di antara mereka yang kemudian menghadapi kenyataan yang cukup berat

Jika Anda menggunakan Next.js, kemungkinan besar Anda pernah mendengar anggapan bahwa: "Next.js = Vercel" Padahal kenyataannya tidak harus demikian. Di sinilah OpenNext hadir. OpenNext adalah proyek

Saat pertama kali mencoba OpenCode Go, saya hampir langsung berlangganan tanpa membaca detail program yang mereka sediakan. Untungnya saya menemukan bahwa OpenCode memiliki program referral yang membe

Pertanyaan yang sangat tajam. AdonisJS memang secara teknis kuat, bahkan sering disebut "Laravel-nya JavaScript", karena pendekatannya yang opinionated, fullstack, dan produktif. Tapi kenyataannya, jumlah penggunanya masih kalah jauh dibanding framework besar seperti Laravel atau ekosistem JavaScript yang dominan seperti Next.js, Express.js, atau NestJS.
Baca Juga: AdonisJS: Jembatan Nyaman antara Laravel dan Ekosistem Node.js
Berikut beberapa alasan mengapa AdonisJS jarang penggunanya meskipun JavaScript dan Laravel sama-sama populer:
Developer JavaScript lebih terbiasa dengan framework ringan dan kombinasi tools modular (seperti Express + ORM + validator + router), daripada framework fullstack yang opinionated seperti AdonisJS.
➡️ Ini berbeda dengan Laravel, yang dari awal populer karena "baterai lengkap", cocok untuk developer PHP yang memang terbiasa dengan solusi terintegrasi.
Laravel didukung oleh Taylor Otwell dan komunitas yang sangat aktif.
AdonisJS dikembangkan terutama oleh satu orang: Harminder Virk.
Meski kontribusinya luar biasa, perkembangan framework tetap lambat dibanding Laravel yang punya banyak kontributor dan sponsor.
Next.js (React) sudah menjadi standar defacto untuk server-rendered dan fullstack app di dunia JavaScript.
➡️ Sehingga, developer yang ingin "Laravel experience" di JS lebih memilih Next.js + ORM (Prisma, Drizzle) + Auth libs ketimbang belajar AdonisJS yang punya learning curve baru.
Laravel punya ekosistem luas:
Laravel Forge
Laravel Nova
Laravel Vapor
Laravel Breeze, Jetstream, dll.
AdonisJS belum punya ekosistem sebesar itu. Library pihak ketiga juga lebih jarang yang dibuat khusus untuk Adonis, sehingga kadang perlu banyak workaround.
Laravel punya banyak tutorial, kursus (Laracasts), dan komunitas global. AdonisJS kalah jauh dari segi visibility. Banyak orang bahkan belum pernah dengar AdonisJS.
AdonisJS sudah TypeScript-first, tapi kebanyakan perusahaan besar tetap prefer pakai NestJS untuk enterprise (karena mirip Angular) atau Express untuk proyek cepat.
NestJS juga lebih "mainstream" untuk TypeScript fullstack apps dibanding Adonis.
AdonisJS itu ibarat "Laravel di dunia JavaScript", tapi:
Terjebak di antara developer JS yang sudah nyaman dengan Express/Nest/Next
Dan developer Laravel yang tidak merasa butuh pindah ke JS
Meski begitu, AdonisJS sangat cocok untuk developer Laravel yang ingin pindah ke JavaScript/TypeScript tanpa kehilangan pola pikir Laravel seperti:
MVC
Routing RESTful
ORM (Lucid)
Validasi, middleware, dll.